Mode Pembelajaran Presentasi

Sekolah adalah omong kosong ! “ kata Ivan Illich lantang. Iapun kemudian membeberkan sejumlah dosa sekolah; bahwa sekolah Cuma member rumus-rumus tanpa guna, bahwa sekolah justru membuang system dari konteks lingkungannya, sekolah membuat anak-anak terealienasi, dan sebagainya. Pendeknya, sekolah adalah lembaga tiada guna. “Maka bebaskanlah anak-anak kita dari sekolah”, teriaknya tanpa tedeng aling-aling. Ungkapan-ungkapan ini bisa kit abaca dalam bukunya yang kontroversial; Deschooling Society (bebas dari sekolah)
Romo Mangunwijaya memang buka Ivan Illich yang garang dan menghentak-hentak. Ia juga bukan Paulo Freire, tokoh andragogy dari Brazil yang kemudian terusir dari negerinya karena pikiran-pikiran sosiologisnya yang dianggap revolusioner dan juga punya pandangan yang radikal dalam menatap pendidikan persekolahan hari ini.
Bagi Mangunwijaya, proses pendidikan di sekolah sekarang ini, para siswa tidak di didik, tetapi di drill, dilatih dan dibentuk agar menjadi penurut. Ia menganjurkan agar para siswa kita hidup dalam suasana berpikir kritis. Sesuatu yang memang mahal di masyarakat kita. Beberapa kali Romo Mangunwijaya meratap sedih; “Dengan model pendidikan kita yang memaksa murid berpikir seragam, menghafal, taat komando, apa hasilnya ? kemunduran generasi ! sistem pendidikan yang telah kita pakai akhirnya Cuma penghasilan sekelompok fasis dan penyamun. Tak lebih: kata Romo Mangun dalam banyak kesempatan. Dalam kesempatan lain bahkan Romo Mangun ini pernah berujar bahwa pendidikan kita hanya menghasilkan generasi yang pandai ngejog!
Sebuah ungkapan kasar ? mungkin, tetapi Romo Mangun saya kira tak terlalu salah. Lihatlah kurikulum pendidikan dasar kita, yang penuh dengan aneka pesan dari soal PKK, dokter kecil, transmigrasi, dan tetek bengek yang tak ada hubungannya dengan pengembangan kreatifitas. Proses belajar mengajar setiap hari berlalu serat dengan hafalan dan terlalu verbalitas. Anak-anak yang masih berusia 6 sampai 7 tahun sudah dicekoki kata-kata abstrak yang mereka tidak pahami. Akibatnya mereka hanyam,enghafalkan bunyi-bunyi sebagaimana kita menyanyikan lagu rock`n roll sebelum buisa berbahasa Ingrish.
Kebenaran adalah apa yang dating dari guru dan apa yang selama ini dihafalkan. Mereka tak mengenal kebenaran alternative, karena memang tak dilatih untuk menemukannya. Seandainya dengan caranya menemukan pun, mereka tak berani mengutarakannya karena tak memiliki keberanian. Bukankah mereka sudah terbiasa dengan hal yang serba seragam, dari perkataan, baju, buku, dan tentu saja pola berpikir. Mereka masuk sekolah seakan-akan tak ada tujuan lain.  Kecuali disiapkan untuk menjadi calon “Pak Turut”, menjadi manusia yang selalu menurut, dalam hal apa saja terhadap kemauan generasi pendahulunya yang berjasa dan adiluhung.
Padahal, kalau kita bicara soal pendidikan, berarti berbicara  sesuatu yang amat vital bagi kehidupan manusia. Pendidikan adalah kehidupan, di sana ada interaksi, ada sosialisasi, ada tranformasi, dan sejumlah misi. Itulah maka dalam tinjauan falsafi, pendidikan adalah proses humanisasi, yakni memanusiakan manusia. Mereka yang tadinya tak mengerti ,menjadi mengerti, dari yang tak berbudaya menjadi berbudaya, dari yang bodoh menjadi pandai, dari yang belum baik menjadi baik, dari yang otaknya tidak bisa berpikir, lalu diasah agar mampu berpikir, agar ia mampu hidup bersama manusia lain dalam masyarakatnya dalam posisi kesejajaran.
Konsekuensi dari pandangan pendidikan yang demikian, maka harus ada suasana kebebasan dalam proses pendidikan. Sebab tanpa kebebasan tak aka nada berpikir kritis, tak aka nada kreativitas, dan tak aka nada karya-karya besar dari generasi dalam proses pendidikan tersebut. Tidak menjadi penurut bukan berarti penantang, tetapi menjadi manusia yang selalu menimbang sebelum mengambil keputusan.
Tanpa itu semua, barangkalai akan menjadi kenyataan apa yang akan dikatakan Romo Mangun, ketika hafalan-hafalan dalam sekolah tak mampu menjawab tantangan kehidupan yang sebenarnya dalam masyarakat, mereka menjadi fasis dan penyamun. Mereka lebih asyik lari dengan minuman keras, pil koplo, bawa clurit, berkelahi di jalanan tanpa merasa bersalah, dari pada mengamalkan ilmu untuk masyarakat. Mau bekerja, bekerja apa wong pelajaran yang diterima tidak mengajarkan mereka untuk bekerja.
Ki Hajar Dewantara berkata bahwa pendidikan adalah proses pendewasaan anak didik agar menjadi manusia yang bertanggung jawab. Tetapi mana mungkin terjadi poses pendewasaan sementara kita hidup dalam masyarakat yang belum dewasa ? unjuk rasa berbuah menjadi keberutalan, orang beda pendapat dicekal, jelas-jelas salah tak mau mundur dari jabatannya, di kritik sakit hati. Bukankah ini menjadi ciri khas masyarakat yang belum dewasa ? kalau generasi tuanya saja belum dewasa, mana mungkin akan mampu membawa generasi mudanya menjadi manusia-manusia dewasa ?
Nah ! renungan ini menjadi penting program ini akan membawa hasil yang hebat jika mampu menggelorakan seluruh warga untuk bangkit kesadaran belajarnya tak terbatas pada paket-paket pelajaran yang sudah disiapkan. Tetapi mau belajar dalam arti luas, belajar seluruh bidang kehidupan, tak hanya belajar aritmetika dan membaca, tetapi belajar bagaimana dapat hidup sebagai manusia dengan wajar, hidup sebagai manusia dalam ketinggian peradaban. Lalu memanfaatkan semua media pendidikan  untuk menjadikan dirinya sebagai manusia Indonesia yang berkualitas, berpartisipasi dalam proses pembangunan bangsa yang tengah berlangsung dengan cara dan kemampuan yang dimilikinya.
Sebaliknya program akan menjadi sebuah kegagalan jika hanya melahirkan akumulasi intelektual namun tak dapat tersalurkan dalam proses hidup yang sebenarnya yakni bekerja. Mereka tidak mendukung modernisasi bangsa, tetapi malahan menjadi beban, lantaran harus disantuni, harus dipikirkan, harus dituntun, dibimbing, dan di didik yakni pendidikan yang mencoba mengembangkan harkat dan martabat anak manusia untuk menemukan jati dirinya, melalui proses dialog, berpikir, pengembangan logika

Model Pembelajaran Presentasi

Langkah-langkah :
  1. Kartu Pertama adalah moderator, tugasnya : a). Menciptakan suasana yang aman, b). Membacakan kesimpulan, c). membacakan tata tertib acara diskusi. Kartu kedua, ketiga dan keempat sebagai nara sumber
  2.  Masing-masing kelompok mendapatkan kartu angka yang berbeda warna
  3. Penilainnya adalah : kekompakan (kelompok), kemampuan menjawab (mandiri), presentasi (mandiri), dan konten makalah (kelompok)
  4. Guru menyampaikan sub materi dan permasalahan yang ada di dalamnya, kemudian di bahas oleh masing-masing kelompok
  5. Setiap kelompok bebas memilih atau menggunakan bahan, media, dan model yang sesuai dengan kebutuhan, agar peserta mudah dalam memahaminya

0 Response to "Mode Pembelajaran Presentasi"

Post a Comment